sekedar torehan sekaligus sebagai pembelajaran diri.. bismillah semoga bermanfaat ya Blogger..
Kamis, 19 Juli 2012
Change or Die
sekedar torehan sekaligus sebagai pembelajaran diri.. bismillah semoga bermanfaat ya Blogger..
Selasa, 21 Februari 2012
Jalaluddin Rumi
Minggu, 12 Februari 2012
karena cintaNYA yang Maha Luas
ga ada salahnya aku "coret" lagi di sini kan..? semoga bisa menjadi pelajaran dari kekurangan penulis amatir ini ^_^)
then my sisters.. my br0 in law.. my little hands0me b0y.. mas dyas n dk wiga..
im grateful 4 lecturers 0f FE n U5.. im pr0ud 0f u..)
astaghfirullah.. maafkan aku yang lemah ini Rabbi yang sempat ingn mengundurkan diri dari k0mpetisi mawapres..
padahal semuanya telah tersusun rapi 0lehMu.. ku sempat ga yakin dgn sgala kmampuanku saat itu.. f0kusku jd terpecah..
sekitar tgl 30 des aku dpt sms deadline pengumpulan paper untk k0mpetisi mawapres.. 0h iya mawapres yg ktnya mahasiswa brprestasi..
aku sempat ga yakin melangkah lg.. meski jd mawapres fakultas dan selanjutny dk0mpetisikan ke universitas aku sempat trpikir mengundurkan diri..
aku g yakin paperku bisa jadi tgl 5jan 2011 sbg deadline..
seharusnya bs jadi chance besar untk terus mengabdi di dunia pendidikan.. that's i l0ve i think..
sebelumnya saat pembekalan d studnt centre sekitar akhr n0vember uda ada t0pik untk paper..
tp masi blm yakin jg akhrnya dtg ke pembimbing.. pak chrisna kurang sreg dan ternyt bnar sdkt keraguanku..
masih pusing dgn t0pik apa akhrnya ada bbrapa 0psi t0pik dari d0sen..
then finally dgn mengucp bismillah i ch00se t0pik MLM.. itu yg membuatku trtantang..
brbagai k0ntr0versinya dan terlebh q sbg 0rg awam d bidang MLM..
hari berlalu jg smbil brusaha membc dan memahami betul ttg MLM.. dan tanya2 k 0rg2 ttg hal itu..
sempat ku tanyakan dan minta pendapat k tmen U5 ttg pengunduran diriku..
di sela2 ku brpikir btapa eg0isnya aku.. dan mereka 'melarang' ku mengundurkan diri.. terlebih uda setengah jalan..
akhrnya merekalah ilham nya.. mend0r0ng dan mem0tivasi.. dan terpenting ini amanah dr fakultas.. aku g mau mengecewakan..
entah apa pun hasilnya paper tetap dkmpulkan dan td pg presentasi..
ga sia2 lemburanku.. tekad demi 0rg2 yg selalu mem0tivasi..
q pasrah.. hanya brharap presentasi brjalan lancar dan aku dberi kemudahanNya..
tak pernah trbygkan.. saat pengumuman tiba..
seiring cintaku padaMu q hny mem0h0n pert0l0nganmu..
dan Kau lbh brhak itu.. bhwa ku salah.. Kau membuktikan atas kebesaranMu..
bkan hasil yg ku per0leh.. namun ibrah dan Kau mengingatkanku.. betapa kecilnya aku dan tak mampu..
MAN JADDA WAJADA..
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAA ILAA
HA ILLALLAH ALLAHU AKBAR..
by: ARSendayell0w
at the grateful 0f January 2011
Kamis, 09 Februari 2012
Sistem Moneter Islam: Solusi Aplikatif Perekonomian Madani
Dewasa ini, pembahasan mengenai ekonomi dunia maupun dalam negeri semakin menunjukkan kepedulian masyarakat dan para pakar khususnya dalam membangun perekonomian yang sehat. Memang, topik ini telah ramai apalagi dengan sistem riba yang sampai sekarang belum menemui solusi komprehensif karena praktiknya belum menyeluruh, masyarakat pun belum menyadari pentingnya ekonomi syariah. Sebenarnya ekonomi moneter lahir dari suatu ideologi bahwa Syekh Taqiyuddin An Nabhani menyatakan “Islam telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk melakukan pertukaran dengan mempergunakan apa saja yang dia sukai. Hanya saja, pertukaran barang dengan satuan uang tertentu itu telah ditunjukkan oleh Islam satu sistem moneter. Dan Islam telah menetapkan bagi kaum muslimin kepada jenis tertentu yaitu emas dan perak. (An Nidzam Al Iqtishadi fil Islam). Dengan dasar-dasar hukum tersebut, nyatalah bahwa sistem moneter bukanlah area ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat umum, melainkan bagian dari sebuah pandangan hidup dan ideologi. Fakta menunjukkan bahwa sistem moneter bukanlah ilmu pengetahuan yang umum milik semua umat, melainkan bersumber dari aqidah dan syariat tertentu. Sebagai contoh “riba” merupakan problem moneter dalam sistem kapitalis, namun menurut sistem Islam “riba” bukanlah problem moneter sebab membungakan uang adalah perbuatan yang haram hukumnya. Maka sistem moneter kapitalis tidak boleh diterapkan dalam masyarakat Islam. Seperti halnya pemikiran Prof. Dr. Muhammad dalam seminar nasional yang diadakan oleh Himmah FE Unissula pada 17 Juni 2011 lalu, bahwa sistem ekonomi Islam yang artinya memiliki sistem non riba dapat membangun perekonomian madani secara aplikatif.
Lalu mengapa harus ekonomi Islam? Jelas, sistem ekonomi berdasar syariah dan aqidah Islam. Selanjutnya, menurut beliau dalam seminar yang bertemakan “ Sistem ekonomi non riba: kajian konseptual dan aplikatif membangun perekonomian madani ” bahwa sistem ekonomi yang ada sekarang belum mampu memberikan solusi atas pemenuhan kebutuhan manusia secara memuaskan, ada instrumen ekonomi yang dijalankan dalam ekonomi konvensional dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, lalu apakah Islam sebagai pandangan hidup yang komprehensif memiliki konsep ekonomi yang berpotensi memberikan solusi atas kebutuhan manusia secara memuaskan?
Dalam pengertian yang sesungguhnya bahwa ekonomi Islam merupakan tanggapan para pemikir muslim atas berbagai tantangan ekonomi. Dalam hal ini didasarkan pada Quran dan Sunnah disamping alasan dan pengalaman (menurut N.Siddiqi), sedangkan menurut Hasanuz Zaman, ekonomi Islam adalah suatu ilmu dan penerapan hukum syariah yang melindungi ketidakadilan dalam kaitan dengan upaya pencapaian kesejahtaeraan manusia dan pelaksanaan ibadah kepada ALLAH. Salah satu tanda adanya kehidupan di alam semesta yaitu adanya aliran, artinya upaya “menghidupkan sesuatu” (misalnya perekonomian) harus ditandai dengan adanya upaya “mengalirkan sesuatu” (yang terkait dengan perekonomian). Hal inilah yang memaknai ekonomi Islam sebenarnya, dalam Q.S Al Kahf : 31 “..Bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya...” dan Q.S Ar Rahman : 50 “...di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang mengalir...”.
Konsep ekonomi dengan salah satu aktivitasnya yang memiliki sistem anti riba dan anti judi adalah zakat, merupakan hasil pemikiran Prof. Muhammad. Zakat bukan sekedar upaya funding to distribute (fungsi sosial), melainkan juga merupakan control (fungsi pengendalian) yang bersifat menekan (pressure) atas keberadaan harta masyarakat. Zakat itulah yang merupakan solusi aplikatif dalam membangun perekonomian madani, upaya pengendalian harta masyarakat agar mengalir (tidak menumpuk) menuju aktivitas investasi. Perekonomian madani inilah yang membawa kemaslahatan bagi umat lain. Menurut Prof. Dr. Muhammad, seorang akademisi dan praktisi serta dosen tetap STEI Yogyakarta, bahwa memungut “denda” atas penumpukan harta yang terjadi dengan “aturan teknis” tertentu yaitu batas minimal (nisab), ukuran tertentu (kadar) dengan waktu tertentu (haul) di mana akumulasi dana eks “denda” tersebut didistribusikan kepada 8 (delapan) golongan masyarakat tertentu.
Sedangkan dalam aktivitas ekonomi bersistem riba, upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan aliran investasi dengan cara memaksimalkan kemungkinan investasi melalui pemastian masa depan yaitu instrumen suku bunga. Semakin tinggi suku bunga maka semakin besar kemungkinan aliran investasi yang terbendung. Tetapi, taukah letak haramnya riba?? Telah dijelaskan dalam Q.S Al Baqarah : 275 “…Adalah disebabkan mereka berkata sesungguhnya jual beli sama dengan riba, padahal ALLAH telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. Sistem jual beli mengakui adanya laba, sedangkan riba mengakui adanya bunga. Dalam jual beli, tidak ada unsur pemastian sedangkan riba ada pemastian.
Selanjutnya, aktivitas ekonomi bersistem judi cenderung fokus pada pernyataan untung-untungan yang ditekankan pada spekulatif yang irrasional, tidak logis dan tidak berdasar. Hal ini akan berdampak ekonomi, yaitu fokus terletak pada tidak berpengaruhnya aktivitas judi terhadap Agregat supply / tidak produktif. Dengan demikian aktivitas yang tidak memberikan dampak meningkatkan agregat supply barang dan jasa, merupakan hal yang tidak diperbolehkan (haram). Oleh karena itu, sistem ekonomi Islam merupakan sebuah sistem perekonomian sunnatullah yang mendorong adanya aliran investasi (by zakat) secara optimal (by anti riba) yang bersifat produktif (by anti judi). Meski dalam praktiknya hingga kini sistem syariah belum optimal 100%, hendaknya masing-masing dari kita menyadari hal itu. Melalui proses yang tidak sebentar mari kita wujudkan perekonomian madani dari lingkungan terkecil kita..
ALLAHUMMA SHOLLI ALAA MUHAMMAD
Satur 8 2011
Senin, 06 Februari 2012
Izinkan Aku "Menangis"
Senin, 09 Januari 2012
at Corner of my Library
Denting waktu sudah menunjukkan pukul 11.33
tepatnya di kampus.. perpustakaan FE Unissula (tempat aku menimba ilmu strata 1)..
....tepatnya September 2008 aku memasuki awal kuliah di sini..
dan sekarang dengan wajah yang berbeda dengan berlalunya titian langkah ini berada di sini..
meski akan usai namun aku yakin asaku tak kan usai..
entah dengan cara apa Allah berkehendak..
laa haulawalaa quwwataillahi billahil aliyyil adziim..
ehmm udah adzan disambung lagi dulu ntar kalau ada waktu..
1 pm.. sekarang udah pindah tempat.. hihiiii
lagi nomaden niihhh.. mau lunch nunggu temen bimbingan dulu..
sambil ngasih coretan ^_^..
Alhamdulillah.. dalam kondisi apapun semoga Allah selalu menjagaku.. aamiin
tadi perut aga bermasalah..mau pulang tapi ga jadi dehhh akhirnya aku urungkan..
nahh skg udah agak mendingan.. Alhamdulillah ya Rabb...
come back at my corner.. sudut paling favorit selain di rumah..
udah kurang lebih 3,5 tahun kuliah di sini rasanya cepet.. (saking senengnya kaliii)
ketemu sama orang-orang hebat yang belum pernah aku duga sebelumnya..
ketemu sahabat2 U5 yang kompak tapi gokillll abisss.. sama dosen2 tentunya yang banyak menginspirasi.. many thanks for all of u..
January 2012.. saatnya udah ga ada kuliah.. alhamdulillah ujian skripsi udah kelar beberapa bulan lalu.. tinggal ngasistenin.. and now udah selesai kontraknya coz masih pada ujian semester.. sebenarnya masih bisa diperpanjang sihh cuman ntar deh liat sikon.. pengennya sih bisa melebarkan sayap ke luar (sudah saatnya cieeeee).. dalam artian udah saatnya jadi dosen bukan asisten lagi (tapi kalau masih asisten juga mau sihh.. gapapa)
ya namanya ikhtiar pengen nglamar dosen like D1 atau D3 kalau ada.. itu dulu coz blum bisa langsung lanjut S2 karena beberapa alasan (termasuk mau nikahhh hihiiiii)..
lagian rencana suamiku ntar duluan yang kuliah.. (mengalah demi masa depan.. lagian urgent calon suami.. (aku masih pake calon suami karena masih calon ^_^_)..
Ya Allah.. semoga ada malaikat lewat dan mengamini.. aamiin
aku tahu pasti nanti Allah kasih yang terbaik untuk hidupku..
manusia bisanya berencana dan berusaha.. selebihnya itu hak prerogatif Allah..
yang terpenting saat ini aku hanya ingin berusaha menjadi makhlukNYA yang berusaha memperbaiki diri..
ntah ujian demi ujian akan Allah berikan untukku.. aku yakin Allah bersamaku dan bersama dengan makhluk-makhlukNYA..
Next.. sampai saat ini alhamdulillah ga nganggur karena banyak pelajaran setiap harinya..
kalau ga ngampus ya di rumah belajar masak.. belajar momong dedek.. selama udah ga ngasistenin ya ngelesin sore sampai malem.. bervariasi sihh ga tiap hari gitu.. intinya ada aktivitas dan masih berhubungan dengan akademik.. coz i love it..
kalau ngampus ya paling wifi an kali ada info baruuu.. ketemu temen2 dosen2 atau apa ajalah pasti ada aktivitas dan insyaAllah berkah karena banyak belajar dari setiap kejadian..
Lets.. ijinkan aku untuk mengakhiri yaaa (hffft).. nanti kita lanjut lagi dengan banyak cerita..
karena lanjutan curhatan 10 Januari 2012 sampai di sini dulu..
oh ya sejak kurang lebih 2 tahun punya blog baru 2012 ini aku isi blog ku hehe (sekedar info)..
baru menyempatkan soalnya ^_^..
semoga apapun langkah kita dengan niat lillahi ta'ala mendapat ridhoNYA selalu..
aamiin..
Sabtu, 07 Januari 2012
Ketika Aku Menjaganya.. Allah Menjagaku ^_^

“Ta, hafalannya udah nambah belum?” “Mmm… Mmm… Belum.” Begitu terus pertanyaan papah dan begitu terus jawabanku. Menjaga yang sudah ada saja sulit, begitu pikirku dan aku berusaha untuk muroja’ah saja. Nyatanya untuk muroja’ah saja tanpa ziyadah memang sudah sangat susah.
Aku bukan penggemar seorang Mario Teguh, hanya waktu itu kebetulan televisi yang dinyalakan sedang menayangkan Golden Ways. “Jangan risaukan akan kekurangan-kekurangan kita, tapi maksimalkan kelebihan yang kita miliki walaupun hanya satu bidang.” Saat itu aku berfikir dan menyadari ternyata selama ini aku memang selalu berputar-putar pada kekuranganku. Tanpa pernah memaksimalkan kelebihan yang aku miliki.
Selepas Ramadhan maka mulailah kulanjutkan ziyadahku. Sejak sampai SMU ziyadahku hanya mentok di juz 26. Juz 25 ayatnya mulai susah, kurang familiar, dan panjang-panjang. Mungkin ini karena kurang motivasi saja. Saat kuliah aku ikut lembaga tahfidz qur’an An-Nur. Awalnya diajak oleh senior satu wisma. Sempat pikir-pikir juga sih karena biayanya cukup mahal untuk ukuran anak kos yang jauh dari orang tua.
Ternyata di wisma ada tiga orang senior dan satu orang temanku yang juga ikut, aku jadi semangat karena ada teman. Di An-Nur memang menganjurkan ziyadah mulai dari depan (Al-Baqoroh). Akhirnya mulailah aku berkutat di Al-Baqoroh. Ayatnya ternyata memang relatif lebih mudah, easy listening rasanya. Dan lagi-lagi hanya mentok di akhir Al-Baqoroh. Karena kesibukan (yang sebenarnya mungkin hanya alasan semata) dan malas saat tiba masanya ujian akhirnya aku berhenti dari An-Nur.
Saat ini aku mulai mencoba untuk ziyadah kembali. Mencoba menaklukan Ali-Imron. Lumayan sedikit-sedikit sambil menunggu pasien. Jika dipikir-pikir memang ternyata lebih sulit. Kali ini bukan terkendala kepada masalah sulitnya ayat, tetapi lebih kepada karena aku berjalan sendiri tanpa seorang hafiz atau hafizoh tempat aku menyetorkan hafalanku seperti dulu.
Tanpa ada standar apakah aku sudah berhak melaju ke jenjang ayat berikutnya atau masih harus terus mengulangnya. Tak ada lagi ujian kenaikan juz, ujian setiap akhir catur wulan, atau ujian tiap periode akhir semester. Semua akulah yang mengontrol. Aku yang harus terus bangkit saat godaan-godaan kemalasan datang menghinggapi jiwa.
Teringat sebuah perkataan dari Ustad ‘Abbas Al-hafiz, semoga Allah senantiasa merahmati dirinya dan keluarganya “Kita dan Al-Qur’an itu seperti satu jiwa, satu nyawa. Rasanya jika kita menyetorkan hafalan kita maka Al-qur’an harus selalu kita pegang karena dengan seperti itu kita akan merasa lancar. Padahal sebenarnya jiwa kita dan Al-Qur’an menyatu jika kita menyetorkan hafalan kita justru tanpa memegang Al-Qur’an. Bila lancar melafalkannya maka disitulah jiwa kita menyatu dengan Al-Qur’an.”
Ada tiga jenis hafalan, dari sinilah kita sesungguhnya bias mengetahui kualitas hafalan kita. Hafalan otak, hafalan mulut, hafalan hati. Pertama; hafalan otak yaitu hafalan Al-Qur’an yang jika kita melafalkannya maka kita butuh konsentrasi penuh, kalau bisa suasana tenang, tidak ada gangguan. Jika kita lupa akan suatu ayat, maka kita akan berpikir keras, meminta clue kepada penyimak hafalan kita berupa arti dari awal ayat atau satu kata dari awal ayat tersebut. Kedua; hafalan mulut yaitu bila kita mampu melafalkan hafalan kita sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sambil menyapu, memasak, mengepel hafalan itu mengalir dari mulut kita tanpa cela. Ketiga, hafalan hati yang merupakan kualitas hafalan tertinggi.
Cara mengetesnya mudah saja, bangunkan orang yang sedang tidur kemudian langsung berikan satu buah ayat. Jika ia berhasil melanjutkan ayat tersebut tanpa berfikir terlebih dahulu maka hafalannya telah mencapai hafalan hati. Subhanallah… jadi malu, adakah hafalanku yang sudah mencapai hafalan hati?
Setiap orang memiliki cara ziyadah yang berbeda-beda. Namun yang saat ini saya pakai adalah dengan membaca ayat yang akan dihafal tiga kali (kalau malas sedang mendera kadang hanya satu kali) kemudian membaca artinya. Lebih bagus menghafal dengan Al-Qur’an yang ada terjemah kata per katanya (seperti Inayah, Syamiil ukuran besar; bukan promosi lho…) sehingga akan lebih mudah dipahami. Menghafal jadi seperti membaca sebuah kisah indah, bila lupa mudah untuk merecall kembali. Ulang terus hingga benar-benar lancar.
Jika sudah lancar maka ulanglah dari ayat sebelumnya. Begitu juga saat akan melaju ke ayat selanjutnya. Bila telah hafal maka ulanglah dari dua ayat sebelumnya. Untuk juz-juz yang berisi beberapa surat, maka jika telah hafal sebuah surat ulanglah dari surat sebelumnya. Otomatis dengan begitu surat yang paling dahulu kita hafal di juz tersebut akan menjadi yang terlancar bahkan bisa menjadi hafalan hati. Coba saja juz 30, insyaAllah An-Naba-lah yang paling mudah. Sambil merem juga lancar. Di juz 29, Al-Mulk yang paling ok.
Usia pun mempengaruhi daya tangkap kita. Rasanya An-Naba yang dihafal dari SD tidak pernah lupa-lupa tapi yang baruuu saja kita hafal jika tidak kita ulang-ulang saja selama dua hari, langsung deh lupa lupa inget. Apalagi ditambah melakukan maksiat (walaupun menurut ukuran kita hanya maksiat kecil), pasti jadi harus seperti ziyadah ulang. Weleh…weleh… Karena saat kecil (sebelum baligh) kita masih tanpa dosa, berfikir jernih, tidak neko-neko maka ziyadah pun akan lebih mudah.
Tak heran banyak pesantren tahfidz Qur’an yang mencetak hafidz hafidzoh saat usia santrinya setara kelas 6 SD. Subhanallah… Kita memang telah tertutup kemungkinan menjadi hafidz/hafidzoh di usia dini, tapi kelak kita bisa mewujudkan hal tersebut melalui anak-anak kita kelak.
Setiap hafidz hafidzoh memiliki ciri khas yang berbeda saat menyimak hafalan kami. Air mata seakan berlomba turun saat teringat Pak ‘Abbas yang tetap tahu kesalahan murid-muridnya walaupun beliau menyimak hafalan kami seakan tertidur. Pak Masrur yang selalu membenarkan tajwid. Bu Husnul dengan deheman-dehemannya ketika aku salah baca. Atau ketukan-ketukan pulpen di meja yang terdengar saat (lagi-lagi) aku salah baca. Wajah-wajah teduh itu bisakah menjadi wajahku juga?
Kembali teringat saat wisuda di Rafah. Saat para hafidz muda (setara kelas 3 SMU) dipanggil namanya, air mata ini kembali mengalir. Mereka telah mempersembahkan mahkota dan baju emas untuk kedua orang tuanya di yaumil akhir kelak. Bisakah aku?
Salah seorang pasienku hari ini adalah seorang ustad Rafah yang berasal dari Mesir, asli Mesir, dan berbicara bahasa arab. Beliau ditemani oleh ‘Arij (putra dari Ustad Natsir pemilik Pesantren Rafah tempatku saat ini mengabdikan diri) sebagai penerjemah. ‘Arij yang baru saja naik ke kelas 2 SMP, ‘Arij yang masih lucu, ‘Arij yang masih mencium tanganku, berbicara dengan beliau dalam al-lughotul ‘arabiyyah. Itu bahasa ahli syurga kawan, bahasa para penghuni syurga yang wajahnya senantiasa berseri. Anak sekecil itu.
Dan aku kembali malu pada diri ini mengingat pelajaran bahasa arabku yang sangat minim dan banyak lupanya sejak lulus SMU. Ya Allah, bisakah aku memasuki syurga-Mu? Di mana para penghuninya berbicara dalam bahasa Al-Qur’an, bahasa yang sangat indah.
Saat tulisan ini aku buat genap usiaku seperempat abad dan belum sampai tiga minggu aku kembali menggiatkan ziyadahku. Namun aku mendapatkan begitu banyak kemudahan dan keindahan di hari ini. Seperti Allah sedang memelukku.
Padahal aku baru sedikit sekali ziyadah, muroja’ah pun masih belang bentong. Ya Allah berikanlah selalu hidayah-Mu kepadaku, para penghafal dan pemelihara Al-Qur’an agar senantiasa bersama Al-Qur’an saat kami lapang maupun sempit, saat kami senang maupun susah, saat kami kaya maupun miskin, saat kami sehat maupun sakit, dan sepanjang hidup kami. Ya Allah curahkanlah syafa’at-Mu selalu kepada para penjaga Al-Qur’an di yaumil akhir kelak.
Aku ingin mempunyai amalan unggulan dan saat ini ziyadahlah yang aku pilih di saat amalan lain terasa lebih berat (terutama sebagai ibu hamil). Aku ingin janin dalam rahimku turut mendengarnya saat aku ziyadah, turut merasakan nikmatnya ziyadah, dan aku ingin kelak ia menjadi hafidzoh.
sumber : Gracia Azra Lestari, Era Muslim




